Uncategorized

Ketika Walkman Mengubah Cara Kita Mendengarkan Musik

Sebelum playlist, streaming, dan earbud nirkabel, ada masa ketika satu kaset dan sebuah Walkman cukup untuk membawa musik ke mana-mana.

Hari ini membawa ribuan lagu di saku terasa biasa. Kita tinggal membuka ponsel, memilih lagu, lalu memasang earbud. Tidak ada kaset yang harus dibalik, pita yang kusut, baterai AA yang melemah, atau tombol mekanis yang harus ditekan.

Namun pada akhir 1970-an, gagasan sederhana—mendengarkan musik pribadi sambil berjalan ke mana saja—adalah sesuatu yang berbeda.

Dan salah satu benda yang mengubah kebiasaan itu adalah Sony Walkman.

Musik yang akhirnya bisa ikut berjalan

Sebelum pemutar musik portabel menjadi bagian dari keseharian, menikmati rekaman musik berkualitas umumnya terikat pada perangkat di rumah atau audio mobil. Sony sendiri menggambarkan Walkman sebagai produk yang memperkenalkan cara baru menikmati musik secara personal di mana saja.

Pada 1 Juli 1979, Sony meluncurkan Walkman pertama, TPS-L2, sebuah pemutar kaset stereo portabel berwarna biru-perak.

Menariknya, benda yang kelak menjadi ikon itu justru lahir dari kebutuhan yang sangat sederhana.

Salah satu pendiri Sony, Masaru Ibuka, menginginkan perangkat yang memungkinkan dirinya mendengarkan musik stereo ketika bepergian, termasuk dalam penerbangan. Sebuah tape recorder kemudian dimodifikasi menjadi perangkat stereo. Akio Morita melihat potensi gagasan tersebut dan mendorong pengembangannya menjadi produk konsumen.

Walkman pertama bahkan tidak memiliki fungsi merekam.

Ada keraguan bahwa pemutar kaset yang hanya bisa memutar musik akan laku. Tetapi justru kesederhanaan itulah yang kemudian menjadi kekuatannya: masukkan kaset, pasang headphone, tekan play, lalu pergi.

Untuk pertama kalinya, musik terasa benar-benar pribadi

Walkman tidak menemukan kaset. Headphone pun sudah ada jauh sebelumnya.

Perubahan besarnya adalah ketika keduanya dipadukan menjadi perangkat yang cukup kecil dan ringan untuk menemani aktivitas sehari-hari. Sony memasangkan Walkman pertama dengan headphone MDR-3L2 yang beratnya sekitar 45 gram—jauh lebih ringan dibanding banyak headphone konvensional pada masa itu.

Musik tidak lagi harus memenuhi sebuah ruangan.

Ia bisa memenuhi ruang pribadi seseorang.

Naik kendaraan, berjalan kaki, duduk menunggu, berolahraga atau sekadar menyendiri kini bisa memiliki soundtrack masing-masing.

Smithsonian menggambarkan perubahan tersebut sebagai sesuatu yang lebih besar daripada sekadar portabilitas: ketika musik mengikuti seseorang melalui headphone, pengalaman melihat dunia di sekelilingnya ikut berubah.

Fenomena yang sekarang sangat biasa—orang berjalan sendirian sambil memakai earphone—pernah merupakan kebiasaan baru.

Kaset menjadi sesuatu yang personal

Walkman juga memperkuat hubungan kita dengan kaset pita.

Satu kaset album mungkin hanya berisi beberapa lagu. Untuk berpindah lagu, kita tidak bisa menyentuh layar. Kita menekan tombol fast-forward, menebak posisi lagu, lalu berhenti dan mencoba lagi.

Selesai Side A?

Keluarkan kaset.

Balik.

Masukkan kembali.

Tekan Play.

Ada keterlibatan fisik yang sekarang hampir hilang dari pengalaman mendengarkan musik.

Dan kemudian ada mixtape.

Orang dapat menyusun lagu pilihannya sendiri ke dalam sebuah kaset—untuk didengarkan sendiri, diberikan kepada teman, atau seseorang yang istimewa. Smithsonian mencatat bahwa budaya mixtape memberi pendengar kendali baru atas pilihan dan urutan musik yang mereka dengarkan.

Dalam arti tertentu, mixtape adalah nenek moyang playlist.

Bedanya, membuatnya membutuhkan waktu.

Dari perangkat aneh menjadi budaya global

Pada awal peluncurannya, konsep berjalan-jalan menggunakan headphone belum langsung dipahami masyarakat. Sony bahkan melakukan demonstrasi di jalan, kereta, kawasan ramai dan kampus untuk menunjukkan bagaimana Walkman digunakan.

Respons awal media juga tidak terlalu besar.

Namun keadaan segera berubah.

Walkman berkembang menjadi fenomena internasional. Dalam laporan peringatan 20 tahunnya pada 1999, Sony mencatat pengiriman kumulatif 186 juta unit Walkman kaset di seluruh dunia hingga akhir tahun fiskal 1998.

Nama Walkman sendiri akhirnya begitu melekat pada budaya populer sehingga Sony mencatat kata tersebut masuk ke Oxford English Dictionary pada 1986.

Dari sana perjalanan pemutar musik portabel terus berubah.

Kaset berganti CD.

Lalu MiniDisc.

File digital.

MP3 player.

Smartphone.

Streaming.

Headphone kabel berubah menjadi perangkat nirkabel.

Tetapi gagasan dasarnya tetap terasa familiar:

musik kita, dibawa ke mana pun kita pergi.

Sebelum algoritma memilihkan lagu

Ada satu perbedaan menarik ketika melihat Walkman dari masa sekarang.

Hari ini layanan streaming dapat merekomendasikan musik berdasarkan algoritma. Kita memiliki jutaan lagu yang bisa dipanggil dalam hitungan detik.

Walkman menawarkan pengalaman yang hampir berlawanan.

Kita memilih satu kaset sebelum berangkat.

Pilihan musik yang menemani perjalanan hari itu dibatasi oleh benda kecil yang kita masukkan ke dalam perangkat.

Tidak ada shuffle dari jutaan lagu.

Tidak ada rekomendasi otomatis.

Tidak ada notifikasi.

Hanya kaset, headphone, tombol mekanis dan musik yang kita pilih sendiri.

Bukan berarti pengalaman lama lebih baik daripada teknologi sekarang. Tetapi cara kita berhubungan dengan musik memang berubah bersama mediumnya.

Sebuah benda, sebuah perubahan zaman

Itulah yang membuat Walkman menarik untuk dilihat kembali.

Ia bukan sekadar elektronik lawas yang kini menjadi barang koleksi.

Walkman adalah jejak perubahan perilaku.

Benda kecil ini membantu menjadikan mendengarkan musik sebagai aktivitas yang semakin personal, portabel, dan menyatu dengan perjalanan sehari-hari. Sony menyebut generasi pertamanya sebagai produk yang menciptakan gaya hidup baru; sejarah setelahnya menunjukkan betapa panjang pengaruh gagasan tersebut.

Sekarang perangkatnya mungkin tersimpan di lemari, pasar barang lawas, atau rak seorang kolektor.

Kasetnya mungkin sudah tidak lagi diputar setiap hari.

Busa headphone mungkin telah mengeras.

Label kaset mulai menguning.

Namun kebiasaan yang dibantunya populerkan masih bersama kita.

Ketika hari ini seseorang memasang earbud, memilih lagu di ponsel, lalu berjalan keluar rumah membawa musiknya sendiri, ada sebuah gagasan dari masa lalu yang masih terasa sangat akrab.

Benda berlalu. Cerita tertinggal.

Dan di situlah kita menemukan Jejak Masa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *